Afiliasi Asing : Manfaat atau Ketidak Kepercayaan Diri KAP Indonesia


Dalam UU No.5 Tahun 2011 tetang Akuntan Publik juga mengatur terkait kerja sama antar-Kantor Akuntan Publik (OAI) dan kerja sama antara KAP dan Kantor Akuntan Publik Asing (KAPA) atau Organisasi Audit Asing (OAA).

Dalam UU No.5 Tahun 2011 tetang Akuntan Publik juga mengatur terkait kerja sama antar-Kantor Akuntan Publik (OAI) dan kerja sama antara KAP dan Kantor Akuntan Publik Asing (KAPA) atau Organisasi Audit Asing (OAA). Sebagian AP begitu bangga berafiliasi dengan KAPA meskipun dalam pemantau saya di beberapa AP yang berafiliasi asing, ada beberapa hal yang tidak pernah terjadi.

  1. Tidak pernah ada panduan kertas kerja standar bersama
  2. Tidak ada Review mutu Berkala semisal tahunan
  3. Tidak ada Anual Meeting
  4. Tidak Sharing Client dari KAPA Affiliasi

melihat kondisi ini akhirnya saya bertanya, buat apa bayar per tahun hingga Rp 60.000.000 kalau tak ada Sharing Knowledge yang dapat meningkatkan kopetensi kita. Beberapa kawan AP yang saya tanya memiliki jawaban yang sama yaitu untuk meningkatkan daya jual karena klien-klien kita Indonesia ini kalau dengar afiliasi asing langsung percaya. Walau ada bebera afiliasi asing memang melakukan beberapa dari 4 point di atas akan tetapi sebagian besar tidak melakukannya.

Melihat dari sini saya dapat menyimpulkan secara pribadi, bahwa kita sudah lama di jajah sehingga rendah diri tidak mampu menjual diri dan kualitas pribadi sehingga harus cari branding asing meskipun disana juga kelas ruko. Mental klien yang sudah tertipu dengan berbau-bau asing juga memperkuat niat para AP ini untuk rela membuang uang membayar afiliasi tanpa manfaat yang jelas untuk peningkatan kualitas, asal bisa dilihat keren berafiliasi asing bagi mereka sudah cukup.

Mungkin Paradigma ini harus dirubah, mungkin ini juga akibat begitu kuatnya pengaruh KAP Asing dengan nama asing menguasai Pasar Audit Indonesia dengan sindikasi Kongloromerasi Bisnis Profesi ini. Sebenarnya cara ini bisa dikalahkan jika KAP-KAP keci lokal berkumpul bersama bersepakat membentuk OAI yang telah di amanatkan UU. Ada beberapa OAI yang saya kenal yang memiliki model kertas kerja yang standar akan tetapi sepertinya juga tidak berkembang, atau memang kita kurang memiliki kemampuan berkumpul dan berserikat karena ego kita pada tinggi-tinggi, jika berkumpul semuanya maunya jadi kepala walaupun isi kepala belum bisa mengarahkan kepala yang lain.

sampai kapan profesi kita begini sehingga kita sangat rendah diri dengan bangga menjual brand orang bahkan anak Indonesia sendiri tidak tau nama KAP Lokal dari Big 4 yang ada. sering kali saya bertanya apa nama KAP Lokal dari KAP Asing semuanya diam dan tidak tau, ini yang disebut kita sudah dijajah secara nyata dalam profesi, selagi ini masih terjadi jangan harap ada KAP lokal Indonesia bisa berkiprah di tingkat Intenasional bahkan di Tingkat Asia saja susah dicari karena kita tidak pernah mengenalkan KAP Nama Lokal kita kepeda orang lain.

Sepertinya Regulator kita sama juga mental terjajahnya, sehingga yang di pajang malah nama-nama KAP asing digedung-gedung besar jalan-jalan segita emas Ibu Kota justru nama KAP Lokalnya tidak terlihat dan mereka tidak membuat batasan yang jelas.

620 Lihat