Dosen Jangan Gaptek dan Kudet!


Sudah bukan waktunya menjadi dosen yang Gaptek dan kurang update

Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) menyusun Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca). Kegiatan literasi dipengaruhi beberapa faktor. Mereka adalah kecakapan, akses, alternatif, dan budaya. Kategori Indeks Alibaca terbagi atas lima kategori, yakni sangat rendah (0-20,00), rendah (20,01-40,00), sedang (40,01-60,00), tinggi (60,01-80,00), dan sangat tinggi (80,01-100). Indeks Alibaca menunjukkan, hanya sembilan provinsi yang masuk dalam kategori sedang, 24 provinsi berkategori rendah, dan satu provinsi termasuk sangat rendah. Rata-rata indeks Alibaca nasional berada di titik 37,32% yang tergolong rendah.

Permasalahan di atas membuat Proses mengajar kita diperguruan tinggi terasa begitu-begitu saja sedangkan zaman semakin canggih dan informasi semakin terbuka, searche engine, Translation Tools, Sharing Document dan akses interten semakin cepat.

Pandemi Covid-19 menuntut jutaan guru melaksanakan kegiatan belajar-mengajar dari rumah. Setidaknya terdapat 4.183.591 guru/dosen yang mengajar melalui metode pembelajaran jarak jauh. Para guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiah paling banyak mengajar dari rumah. Jumlahnya mencapai 1.702.377 guru. Pengajar Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah mengikuti dengan 895.799 guru.

Minat Ilmu Yang Rendah
Sewaktu saya melakukan pengajaran melihat anak-anak terasa pasif saat di ajak diskusi terkait materi kuliah dimana notabennya materi ini terkait dengan perkemangan zaman saat ini yaitu teknologi dan sistem informasi, ketertarikan sangat rendah dari 70 anak hanya satu orang yang merespon. kemudian saya coba test cases di group WA mulai saya bahas tetang serial Korea terbaru karena saya secara pribadi sejak 2008 memang mengikuti trand anak sekarang, sontak group langsung berubah meriah bahkan ada yang sangat antusian membahas jalan cerita dari beberapa serial korea dan terksesan sangat spoiler. Bahkan mereka sangat hapal nama-nama peran yang sulit di ucapkan itu, disini saya melihat apa minat anak sekarang?.

Saya secara pribadi depan laptop sejak bangun tidur sampai tidur lagi rata2 setiap hari jam 1 malam, mungkin hampir 50% saya habiskan membaca banyak hal termasuk menonton youtube chanel tentang bidang-bidang keilmuan tertentu jauh masih merasa sangat kurang dalam berbagai hal. Mungkin orang bilang, ya bapak dulu muda juga kayak mereka, sebenarnya pola ini bukan sekarang saja saya lakukan di zaman inet masih lambat dan HP masih jadul pola belajar juga sama, saya lakukan di hari libur ke Kuitang dan toko buku loakan lah tempat kesukaan saya, hunting buku-buku lama disana saya belajar matematika bisa lebih cepat, karena zaman SMA kami pakai buku tahun 2000 akan tetapi saya belajar dari buku-buku keluaran 1988 yang saya beli dari loakan dimana mereka menjelaskan sejarah dari rumus, berbeda dengan buku tahun 2000-an dimana rumus sudah instan dalam kotak.

Untuk zaman saat ini anak-anak harusnya lebih mudah memperoleh banyak bacaan berkualitas seperti yang disediakan oleh  https://id.scribd.com/ yang hanya langganan Rp 69.000 per bulan akan tetapi banyak materi bagus bisa di seleksi, jika tidak mau berbayar kampus bisa langganan akun ini tahunan kemudian loginnya di share ke semua dosen dan mahasiswa sehingga mereka bisa mencari bahan-bahan lebih banyak, saya sudah langganan ini selama 5 tahun tak jarang banyak kawan sesama dosen minta carikan file materi saya carikan di situ ini dan masih banyak alternatig file share yang lain. Jujur melihat pola anak zaman sekarang yang seperti ini kita bisa krisis generasi penerus yang suka baca. Jika mereka tidak suka baca maka.  

Melihat kondisi di atas ini kerja keras kita sebagai dosen untuk mebuat mereka membaca bukan disuapin , maaf jika di beri video yang kita ulas seperti video tutorial sekalipun belum tentu mereka akan tonton sampai habis. Menurut saya bisa beberapa hal yang harus dilakukan dosen supaya anak-anak bisa giat membaca.

1. Standar Penilaian Yang Ketat
Untuk ini kampus benar-benar harus berubah, membuat standar penilaian yang ketat, standar dapat A itu bukan hal mudah, untuk kampus swasta kedang ini di abaikan, bahkan ada beberapa kampus jika dosen terkenal sadis dalam menilai maka kelasnya di kurangi, bahakan ada kampus memfasilitasi mahasiswanya untuk ujian ulang supaya lulus karena mereka punya program 3,5 tahun anak-anak harus lulus, jadi bodoh pintar gak ada bedanya atau malah GIGO, saya melihat di beberapa kampus 3 tahun terakhir soal penilaian ini mulai bergeser makin longgar bukan semakin ketat mungkin ini faktor persaingan mencari murid baru yang semakin sulit karena Kampus Negeri Rasa Swasta juga menjamur melalui penjaringan Mahasiswa jalur Khusus di luar SPMB sehingga pasar kampus swasta dia makan pula, ini mungkin dampak dari industri pendidikan yang gak layak lahi disebut Entitas Nirlaba.

2. Fokus Pembinaan Dosen Dalam Penggunaan Teknologi
Karena kurangnya literasi ini sejak dulu sehingga pas jadi dosenpun kebawa, sehingga ada hal baru gak langsung dipelajari, waktu saat di butuhkan kondisi mendesak seperti harus semua online dimasa Pandemi COVID-19 ini langsung semua gagal teknologi, bahkan masih ada kampus mengadakan training buat dosen bagaimana menggunakan PPT, Ya tuhan! tahun berapa ini? dan yang ikut dosen muda-muda pula, hei lo kemana aja bro sis kampungan bener, kalau dosen senior angkatan nyokap kita mah gak masalah karena zaman beliau hidup sampai dewasa komputer mahal dan beliau ini harusnya kita yang muda ini mendampingi mereka, trus jika lo gaptek juga siapa yang bantu mereka. saya men survey sangat susah menemukan blog pribadi Dosen-dosen muda dimana mereka menulis apa saja yang ada difikiran mereka meskipun terasa hambar, dengan berjalannya waktu mereka akan mahir, ini bukti budaya menulis dan membaca yang sangat rendah. Saya pernah dua kali memngadakan training membuat blog bagi dosen-dosen, setelah acara selesai pantau blog itu tak mereka akses sama sekali, makanya kampus menyiakan blog dosen gak ada yang pakai layakanya seperti layaknya yang dilakukan Bu dwi Martani http://dwimartani.com/ dan https://staff.blog.ui.ac.id/martani/ . Hei dosen Muda gak malu kalian sama Bu Dwi Yang sudah senior akan tetapi lebih canggih dari kalian, berubah kasih contoh ke anak didik bahwa kita juga suka membaca dan menulis, jangan hanya nulis paper saja untuk ngejar point supaya serdosnya turun. Nanti pasti ada yang komen memang lo ada blog, gak usah tanya banyak https://hidayatkampai.com/ , https://nosatu.wordpress.com/ , https://akuntansi.or.id/hidayatullah , https://hidayatullahamri.wordpress.com/ baik yang gratisan maupun yang berbayar, yang gratis sudah tidak saya update lagi sejak bisa buat yang berbayar sebagai identitas, tujuanya ya buat sharing apa yang bisa di bagikan buat mahasiswa itupun masih belum apa-apa dibanding Bu Dwi Martani itu yang blognya penuh ilmu.

sudah waktu kampus mewajibkan Dosen memiliki Blog site yang update sehingga mahasiswanya bisa mengkases buah pemikiranya, dan disediakan bagian untuk mereka berkonsultasi terkait perkembangan teknologi yang bisa digunakan dalam proses medukung mengajar. Kampus harus punya satu Departemen Khusus yang di sebut dengan Departemen  Teknologi dan Perancangan Visual Pembelajaran

Kita adalah contoh dari mahasiswa kita jadi kalau kita sendiri Gaptek dan Kudet bagaimana kita bisa mengajari mereka lebih maju, tersu belajar dan terus coba hal baru sesibuk apapun. Yuk kita beljar lagi kembangain potensi terus membaca dan belajar meskipun sudah profesor gelar dutangan, jangan sampai semakin profesor orang semakin susah memahami apa yang kita sampaikan itu justru aneh , sudah sampai puncak ilmu malah sulit dipahami orang.

217 Lihat