Perpajakan

Kopi dan penghindaran pajak

Kopi dan penghindaran pajak


Coffee giant Starbucks has paid £5m in UK corporation tax - its first such tax payment since 2009 - the company has announced (www.bbc.com). Selama tiga tahun, Starbuck Inggris menyatakan tidak memperoleh keuntungan dan tidak membayar pajak walaupun meraup penjualan 1,2 billion pound di Inggris (www.reuter.com). Tidak hanya Starbuck, Google dan Amazon pun mengalami hal serupa. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah perusahaan tersebut melakukan penggelapan pajak?


Secara runut, kasus ini dapat di cari melalui search engine. Namun penulis hanya ingin menjabarkan secara singkat apa yang terjadi dan bagaimana ini dilakukan. Dalam perpajakan dikenal istilah Tax Evasion dan Tax Avoidance. Tax Evasion ialah tindakan melawan hukum dengan memberikan informasi pajak secara tidak jujur. Sedangkan Tax Avoidance ialah tindakan mengelola keuangan dengan cara tertentu agar beban pajak menjadi minimal dan tergolong tindakan legal (Melville, 2010). Contoh Tax Evasion ialah pemalsuan SPT (Surat Pemberitahuan Pajak), merekayasa laporan keuangan dan lainnya. Lantas apa yang dilakukan Starbuck?


Ada 3 mekanisme yang dilakukan yaitu,
1.      Intellectual Property Company. Starbucks memiliki perusahaan pemegang hak kekayaan intelektual atas desain, resep dan logo Starbucks yang berada di Netherland bernama Starbucks Coffee EMEA BV. Starbuck Inggris dan seluruh unitnya diharuskan membayar fee royalty sebesar 6% dari total penjualan. Biaya fee tersebut kemudian digunakan untuk mengurangi besarnya pajak penghasilan yang mesti dibayar oleh Starbuck Inggris. Sedangkan pendapatan fee royalty yang diterima oleh perusahaan Netherland, dikenakan pajak minim (hanya 2%) sesuai dengan ketentuan perpajakan negara tersebut.


2.      Transfer Pricing. Biji kopi dihasilkan oleh perusahaan di Switzerland (Starbuck Coffee Trading) dan di sangrai oleh perusahaan Netherland (Dutch Roasting Co), perusahaan yang terpisah dari perusahaan induk. Dalam aturan pajak Netherland dan Switzerland, Starbuck diharuskan mengalokasikan keuntungan kepada perusahaan dikedua negara tersebut. Alokasi ini kemudian di setting dengan harga tertentu untuk meniminalkan pajak dan dikenal dengan transfer pricing. Bagi Starbuck Coffee Trading, pendapatan dari pengalihan keuntungan penjualan komoditi dikenakan pajak rendah (hanya 5%) di Switzerland. Sedangkan bagi perusahaan Netherland (Dutch Roasting Co) biaya pembelian biji kopi, sangrai, listrik dan packaging dapat digunakan sebagai pengurang jumlah pajak yang harus dibayar.


3.      Intercompany loan. Melakukan transaksi pinjaman antar perusahaan. Penerima pinjaman dapat menjadikan biaya bunga sebagai pengurang pembayaran pajak. Sedangkan di negara tertentu, pendapatan bunga yang diterima pemberi pinjaman tidak akan dikenakan pajak.


Secara singkat, Starbuck Inggris mengurangi pajak yang harus di bayar dengan cara mengakui biaya free royalty, biaya bunga atas pinjaman dan mengalihkan keuntungan ke negara lain. Seluruh aksi korporasi tersebut bukanlah tindakan illegal. Tindakan tersebut tidak bertentangan dengan hukum ( tax evasion ). Lantas apakah salah menghindari pajak ?


    Pertanyaan ini saya jawab dengan mengutip penelitian Schwarzt and Orleans (1967) yang menyatakan “penghindaran pajak yang sangat agresif itu melanggar prinsip etika dan tanggung jawab sosial”.

RUJUKAN
Menville, Alan (2010). Taxation : Finance Act 2009. Prentice Hall
Schwartz, R.D. and Orleans, S. (1967), “On legal sanctions”, University of Chicago Law Review, Vol. 34, pp. 274-300.
Young, James C. International Tax Issues and Research Opportunities : A View from the U.S. International Conference on Emergence Accounting Issues 2014. Padjajaran University, Bandung.

[REUTERS.COM] http://uk.reuters.com/article/2012/10/15/us-britain-starbucks-tax-idUKBRE89E0EX20121015
[BBC.COM]. http://www.bbc.com/news/uk-politics-23019514
[GATRA.COM] http://www.gatra.com/fokus-berita/22050-skandal-pajak-juragan-kopi.html