Ekonomi dan Perdagangan

Lulusan Siap Kerja Harus Dibentuk Dari Kampus

Lulusan Siap Kerja Harus Dibentuk Dari Kampus

Status Tingkat Pengangguran Indonesia

Berdasarkan data BPS per Agustus 2019 mencatat ada sejumlah 8,13 juta orang setengah pengangguran (orang yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan) dan 28,41 juta orang pekerja paruh waktu (orang yang bekerja di bawah jam kerja normal kurang dari 35 jam seminggu tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain).

Rata-rata jumlah pengangguran sejak Agustus 2015 tak pernah turun di bawah 7 juta orang. Rinciannya, pada Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, Agustus 2016 sebanyak 7,03 juta orang, dan Agustus 2017 sebanyak 7,04 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2019 mencapai 5,28 persen. Pengangguran terbuka tersebut turun dibanding Agustus 2018 yang mencapai 5,34 persen. Penurunan TPT ini terjadi karena jumlah angkatan kerja per Agustus 2019 naik dari 131,01 juta orang menjadi 133,56 juta orang. Kenaikan itu sejalan dengan meningkatnya jumlah orang yang bekerja dari 124,01 juta orang menjadi 126,51 juta orang.

Ketersediaan lapangan pekerjaan sejauh ini masih didominasi oleh sektor pertanian sebesar 27,33 persen, perdagangan sebesar 18,81 persen, dan industri pengolahan sebesar 14,96 persen.
 

Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengangguran di Indonesia cenderung menurun. Namun pada Februari 2020, angka pengangguran kembali meningkat 60 ribu orang. Dari 6,82 juta orang pada 2019 menjadi 6,88 juta orang setahun setelahnya. Jumlah angkatan kerja pada 2020 juga bertambah menjadi 137,91 juta orang, sebanyak 131,03 juta orang di antaranya bekerja. Lapangan pekerjaan yang menurun berasal dari sektor pertanian, perdagangan, dan jasa lainnya. 

TPT menurun dari 5,01% pada Februari 2019 menjadi 4,99% tahun ini. Penurunan juga terjadi pada TPT di semua jenjang pendidikan, yang paling tinggi adalah sekolah menengah kejuruan (SMK). TPT jenjang SMK per Februari 2020 sebesar 8,49%, menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 8,63%. Sekolah menengah atas (SMA) menyusul dengan TPT sebesar 6,77%. TPT selanjutnya adalah Diploma I/II/III sebesar 6,76%, Universitas 5,73%, sekolah menengah pertama (SMP) sebesar 5,02%, dan sekolah dasar ke bawah sebesar 2,64%. Sebagai informasi, jumlah pengangguran meningkat dari 6,82 juta menjadi 6,88 juta. Hal ini disebabkan jumlah angkatan kerja bertambah dari 136,18 juta pada Februari 2019 menjadi 137,91 juta pada Februari 2020. 

Data pengangguran ini belum mencakup dampak pandemi Covid-19. Sebab kasus terkonfirmasi positif pertama Covid-19 baru mencuat pada 2 Maret 2020. DKI Jakarta baru menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada 10 April lalu, kemudian diikuti wilayah-wilayah lain.

Peran Perguruan Tinggi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2019, jumlah pengangguran lulusan universitas mencapai 5,67 persen dari total angkatan kerja sekitar 13 juta orang. Meski persentasenya turun dibandingkan Agustus 2018 yang 5,89 persen, angkanya di atas rata-rata pengangguran nasional yang sebesar 5,28 persen.

Melihat kontribusi lulusan Perguruan tinggi terhadap penambahan jumlah pengangguran, maka sudah saatnya perguruan tinggi harus mulai berbenah diri. Khusus Fakultas Ekonomi khususnya Jurusan Akuntansi dan Manajemen sudah mulai memikirkan hal-hal kreatif. Dari jumlah lulusan perguruan tinggi tak ada yang berani memberi jaminan kalau mahasiswanya siap kerja secara nyata karena memang selama ini di kampuskan mereka tidak di ajarkan bagaimana cara bekerja sesuai bidangnya, adapun mata kuliah kewirausahaan mereka tak pernah di berikan proyek membuat usaha karena dari beberpa pengamatan saya yang ngajar juga bukan dosen pengusaha sukses sehingga tidak begitu banyak bisa mempengaruhi mahasiswa untuk mandiri.

Untuk Fakultas Ekonomi Jurusan akuntansi dan Manajemen sudah saatnya untuk kampus-kampus kelas Universitas membuat Konsultan Internal Kampus (KIK) dalam kampus dimana semua mahasiswa semester akhir khususnya mahasiswa mulai semster 6 untuk magang secara penuh di konsultan internal yang mereka bangun, sebagai mentor di tugaskan secara penuh Dosen-dosen muda yang kreatif dan Energik sebagai pengelola dan digaji profesional. Jasa yang di berikan bisa di bagi menjadi Non Komersial dan Jasa Komersial. Jasa non Komersial bisa berupa kegiatan PKM berkelanjutan membinan UMKM secara day to day dalam merapihkan laporan keuangan dan perpajakan sehingga UMKM terebut bisa naik kelas, setelah mereka naik kelas kemudian mereka mulai di berikan jasa Komersial yang terjangkau.

Untuk jurusan Manajemen bisa dituntun untuk menerapkan ilmunya dalam membuat Content Promosi, Marketing serta melakukan pendataan potensial klien yang ada, setelah kliennya dapat maka akan di eksekusi oleh Jurusan Akuntansi atau kolaborasi.

Secara legalitas KIK ini harus dalam bentuk badan sendiri mungkin berupa PT atau CV dimana pemilik modal utamanya adalah kampus akan tetapi secara pengelolaan manajemen terpisah dari manajemen kampus supaya tidak terpengaruh oleh politik kampus, Dosen yang di angkat menjadi CEO bertanggungjawab dengan target serta program pemberdayaan mahasiswa yang terukur, kompenasi yang yang ia peroleh setiap akhir tahun berupa bonus tergantung dari capaian target yang ia peroleh. KIK ini juga terbuka membuat kerjasama dengan kantor profesional seperti KAP dan lainnya dalam memberikan jasa.

Ini juga bisa jadi solusi dari tujuan Kampus Merdeka dimana mas mentri menginginkan mahasiswa beberapa semster fokus magang di luar kampus, akan tetapi cara ini jauh lebih bisa terkontrol karena mereka masih dalam awasan jaringan kampus selama masa magang.