Isu Lingkungan

Rokok : Antara APBN dan Isu Kesehatan

Rokok : Antara APBN dan Isu Kesehatan

Status Perokok Indonesia
Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas, Asean Region menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 34% dari total penduduk Indonesia pada 2016.

 Sekitar 79,8% dari perokok membeli rokoknya di kios, warung, atau minimarket. Adapun 17,6% membeli rokok dari supermarket. Di Indonesia terdapat 2,5 juta gerai yang menjadi pengecer rokok. Angka ini belum memperhitungkan kios penjual rokok di pinggir-pinggir jalan.  

Filipina adalah negara Asean dengan jumlah perokok terbanyak kedua, yakni 16,5 juta orang atau 15,97% dari jumlah penduduk. Vietnam di posisi ketiga dengan jumlah perokok 15,6 juta orang atau 16,5% dari jumlah penduduk. 

Di Filipina, 96,4% perokok membeli rokok di supermarket. Adapun di Vietnam 68,4% perokok membeli rokoknya di kios, warung atau minimarket dan 28,8% membelinya di pedagang kaki lima.

Persentase penduduk usia lebih dari 15 tahun ke atas yang merokok, antara golongan miskin, menengah dan atas terpaut kurang dari lima persen. Kuintil 3, yang termasuk golongan menengah, mencatatkan persentase penduduk 31 persen, termasuk tertinggi dibanding kelompok rumah tangga lain. Bahkan, kuintil 5 yang merupakan 20 persen kelompok rumah tangga pengeluaran tertinggi, terpaut kurang dari satu persen dengan penduduk kelompok 20 persen rumah tangga berpengeluaran terendah. 

Kuintil merupakan pengelompokan pengeluaran rumah tangga yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dalam lima kelompok sama besar. Kuintil menjadi acuan kelompok rumah tangga di Indonesia yang diukur berdasarkan pengeluaran perkapita. Oleh BPS, kelompok pengeluaran rumah tangga total dengan nilai 100 persen dibagi dalam lima kuintil, dengan kata lain kuintil 1 merupakan 20 persen rumah tangga dengan pengeluaran terendah, terus meningkat hingga kuintil 5 yang merupakan 20 persen rumah tangga dengan pengeluaran perkapita tertinggi. 

Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Nunik Kusumawardani mengatakan konsumsi rokok pada kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah menempati urutan ketiga setelah beras dan bahan pangan. Hal tersebut disayangkan karena mengindikasikan pemenuhan gizi dan pendidikan anak belum menjadi prioritas dibandingkan rokok.

Perokok Remaja Perempuan dan Laki-laki

Remaja berusia 13-15 tahun di ASEAN yang merokok didominasi oleh laki-laki. Persentase remaja laki-laki perokok tertinggi terdapat di Indonesia, yaitu sebesar 35,3%. Persentase terbesar selanjutnya terdapat di Malaysia sebesar 26,1% disusul Filipina sebesar 20,5%. 

Thailand dan Myanmar berada di posisi keempat dan kelima dengan persentase masing-masing sebesar 17,2% dan 17%. Angka tersebut terdapat dalam kajian yang dirilis oleh Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) dengan judul The Tobacco Control Atlas ASEAN Region

Remaja perempuan yang memiliki persentase perokok tertinggi terdapat di Filipina sebesar 9,1% dan Thailand sebesar 5,2%. Brunei Darussalam menjadi negara dengan remaja perempuan perokok ketiga terbesar di ASEAN, yaitu sebanyak 4,3%. Sementara Indonesia menempati posisi keempat dengan persentase remaja perempuan perokok sebesar 3,4%. 

Persentase terendah untuk remaja laki-laki terdapat di Kamboja sebesar 2,9% dan Vietnam sebesar 4,9%. Sementara untuk remaja perempuan terdapat di Vietnam sebesar 0,9% dan Myanmar sebesar 0,2%.

Kontribusi Cukai Rokok Terhadap APBN

Selama periode 2015-2018, penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) mendominasi dengan rata-rata kontribusi 96% terhadap total pendapatan cukai. Tren penerimaan CHT selalu meningkat setiap tahun. Kenaikan penerimaan CHT disebabkan adanya relaksasi pelunasan cukai hasil tembakau dan keberhasilan Penertiban Cukai Berisiko Tinggi (PCBT) melalui pemberantasan pita cukai rokok ilegal. 

Pada 2018, penerimaan CHT sebesar Rp 152,9 triliun atau berkontribusi sebesar 95,8% dari total pendapatan cukai yang sebesar Rp 159,6 triliun. Angka penerimaan CHT pada 2018 meningkat 3,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 147,7 triliun. Pada 2019, diproyeksikan penerimaan CHT meningkat 3,9% menjadi Rp 158,9 triliun. 

Sementara itu, dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 ditargetkan penerimaan CHT sebesar Rp 171,9 triliun atau tumbuh hingga 8,2%. Target ini merupakan yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai informasi, pemerintah menetapkan kenaikan cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran sebesar 35%. Kenaikan tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 2020.

Pemerintah sepakat menetapkan kenaikan cukai rokok pada 2020 sebesar 23% dan harga jual eceran rokok sebesar 35%. Kenaikan ini bertujuan mengendalikan dampak negatif dari konsumsi rokok, terutama dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Selama 2014-2020, cukai rokok telah naik sebanyak lima kali dengan kenaikan tertinggi terdapat pada 2020. 

Pada 2013 cukai rokok naik sebesar 8,5% kemudian pada 2015 sebesar 8,72%, dan 2016 sebesar 11,19%. Adapun kenaikan cukai rokok pada 2017 sebesar 10,54% dan 2018 sebesar 10,04%. 

Tahun Pemilu merupakan tahun yang cenderung bebas dari kenaikan cukai rokok. Hanya pada 2009 cukai rokok naik dengan rata-rata 7%, sedangkan pada 2004, 2014, dan 2019 cukai rokok tidak naik.

Sumber : https://databoks.katadata.co.id/