Pendidikan

Tantangan Kuliah Online di Indonesia Kedepan

Tantangan Kuliah Online di Indonesia Kedepan

Wabah COVID 19 merupakan banyak tak menduga dampaknya akan seserius ini bagi semua lini kehidupan mulai dari sosial, ekonomi, hukum dunia pendidikan dan kehidupan bernegara. Kejadian ini memdesak semua pihak untuk segera berubah dari pola yang biasa ke pola yang tak biasa bahkan lazim dilakukan sebelumnya. Untuk Dunia pendidikan selama ini yang merupakan tatap muka menjadi andalan utama, bahkan dibeberapa perguruan tinggi kehadiran masih masuk sebagai bobot penilaian mencapai 10% dari total nilai satu mata kuliah, ini menunjukan bahwa kehadiran itu sangat penting bagi mahasiswa dan proses pembelajaran di kampus.

Tapi seakrang berbeda, sejak terjadinya wabah covid-19 ini maka semua kampus mengangangap penting belajar dari rumah bahkan memfasilitasi dosen dan mahasiswa untuk belajar dari rumah, bahkan ada salah satu kampus negeri yang sudah membuat keputusan belajar dari rumah hingga Desember 2020 ini artinya mereka nyaris 1 tahun tidak melakukan tatap muka dalam artian yang sesuangguhnya. Perubahaan terkadang membutuh dorongan kondisi tak terduga yang membuat semua harus mengambil keputusan itu secara serentak, setelah wabah ini mungkin semua ya tidak akan sama lagi mungkin akan banyak perubahan cara belajar mengajar, jika keputusan belajar online tetap dilanjutkan maka perguruan tinggi harus melihat beberapa tantangan berikut.

1. Infrastruktur

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny Gerard Plate menargetkan, kecepatan internet di Indonesia mencapai 30 megabyte per second (Mbps) pada 2035. Kecepatan itu naik 3,5 kali lipat dibanding saat ini. Ups tenang dulu itu masih rencana di tahun 2035 artinya 35 tahun lagi, bagaimana kondisi sekarang?

Rata-rata kecepatan internet di Indonesia menduduki peringkat 42 dari total 46 negara lain. Hasil ini diperoleh dari data Ookla pada Desember 2019. Artinya, kecepatan internet di Indonesia tergolong keempat paling buncit dari negara lainnya.

artinya ini cukup menjadi tantangan serta hambatan bagi proses kuliah online jika pemerintah tedak juga segera melakukan percepatan. Koneksi internet di Indonesia menurut Speedtest Global Index berada di posisi ke-112 dunia dengan rata-rata kecepatan mengunduh (download) file sebesar 17,02 Mbps per Mei 2019. Untuk rata-rata kecepatan mengunggah (upload) file sebesar 10,44 Mbps, Indonesia berada di peringkat ke-123 dunia. 

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asean, Indonesia hanya unggul dari Kamboja dan Myanmar yang memiliki kecepatan unduh sebesar 15,81 Mbps dan 12,81 Mbps. Kamboja berada di peringkat ke-117 dunia untuk kecepatan unduh sedangkan Myanmar di peringkat ke-127. Untuk kecepatan internet ketika mengunggah file, Indonesia berada di posisi paling buncit di Asean. 

Singapura merupakan negara yang memiliki koneksi internet terbaik di Asean maupun di dunia. Kecepatan internet untuk mengunduh file di Singapura mencapai 197,5 Mbps atau tercepat di dunia. Adapun kecepatan internet untuk mengunggah file di negara tersebut mencapai 53.12 Mbps atau peringkat ke-9 di dunia. Rata-rata kecepatan internet di Asean untuk mengunduh file mencapai 47.43 Mbps sedangkan untuk mengunggah file mencapai 22,22 Mbps.

2. Kesiapan SDM 

Soal kesiapan SDM ini jika kita lihat dari sisi mahasiswa yang notabennya anak zaman sekarang tentulah mereka sangat cepat beradaptasi dengan tenologi dimana itu sudah menjadi mainan keseharian mereka. yang jadi pertanyaan bagaimana dengan tenaga pengajar?. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mencatat ada lebih dari 1.000 dosen muda yang usianya masih di bawah 25 tahun. Perinciannya ada 227 dosen berada di perguruan tinggi negeri (PTN) dan 1.158 dosen di perguruan tinggi swasta (PTS). ”Dosen muda yang berusia kurang dari atau sama dengan 25 tahun tersebar paling banyak pada program studi dengan Bidang Ilmu Teknik [395 dosen] dan Pendidikan [345 dosen],” sebut Kemenristekdikti dalam Buku Statistik Pendidikan Tinggi 2018 yang dikutip, Senin (29/7/2019).

Jumlah dosen muda di PTN ini memang tergolong kecil karena hanya sekitar 0,3% dari total dosen PTN yang mencapai 75.892 dosen. Sedangkan di PTS, jumlahnya  sekitar 0,7% dari total dosen yang jumlahnya 177.140 orang. Meski begitu, mayoritas dosen di Indonesia juga tidak terlalu tua-tua amat. Di PTN, dosen kebanyakan berusia 35-45 tahun. Di kelompok ini ada 21.299 dosen. Sedangkan di PTS, mayoritas berada di kelompok umur yang lebih muda yaitu 25-35 tahun. Ada lebih dari 61.000 dosen PTS yang usianya baru sekitar 25-35 tahun.

Khusus di PTN, persebaran dosen yang usianya di bawah 25 tahun belum merata. Masih cukup banyak PTN di Tanah Air yang belum memiliki aset anak muda sebagai dosen. Sedangkan kampus yang memiliki dosen muda terbanyak di antaranya adalah Institut Teknologi Sumatra dengan 23 dosen muda. Kemudian ada Universitas Negeri Malang dengan 18 dosen muda dan disusul Universitas Negeri Padang dan Universitas Lampung masing-masing memiliki 14 dosen muda. Bagaimana dengan PTN yang terkemuka? UGM Yogyakata punya 11 dosen yang usianya masih di bawah 25 tahun. ITB tercatat memiliki 8 dosen muda di kampus itu. Sedangkan Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga, dan IPB tidak memiliki dosen yang usianya di bawah 25 tahun. (https://jeda.id/ juli 2019)

Dosen-dosen muda ini diharapkan bisa lebih adaptif dengan perkembangan teknologi sehingga bisa lebih cepat dan kreatif dalam mengembakan bahan ajar yang sesuai dengan metode pengajaran online. Dosen umur lanjut bukan tidak dibutuhkan tetapi berdasarkan pengalaman dosen usia lanjut memang agak sulit beradaptasi dengan perubahan teknologi dan sudah mulai lelah untuk mengexplore lebih jauh tantangan teknologi terbaru.

3. Kualitas

Menurut laporan Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2015 - program yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara, - Indonesia menduduki peringkat 62. Dua tahun sebelumnya (PISA 2013), Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau peringkat 71. (Youthcorpsindonesia.org, 21/5/2017). Kemudian tahun 2017 Indonesia masuk peringkat pendidikan dunia atau World Education Ranking yang diterbitkan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Seperti yang dilansir The Guardian, Indonesia menempati urutan ke 57 dari total 65 negara dari segi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. (Kabarrantau.com 11/9/2017). Secara garis besar, paling tidak ada 3 faktor utama penghambat kurang berkembangnya kualitas pendidikan di Indonesia. Yaitu:

- Kurikulum pendidikan

- Kurangnya tenaga pendidikan berkualitas

- Pemerataan pendidikan

Fenomena ganti menteri ganti kurikulum, masih berlaku di Indonesia. Selama ini pergantian kurikulum masih ‘mengadopsi’ kurikulum negara lain yang dianggap berhasil dalam pendidikannya, sehingga selalu berganti-ganti.

Global Talent Competitiveness Index (GTCI) adalah pemeringkatan daya saing negara berdasarkan kemampuan atau talenta sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Beberapa indikator penilaian indeks ini adalah pendapatan per kapita, pendidikan, infrastruktur teknologi komputer informasi, gender, lingkungan, tingkat toleransi, hingga stabilitas politik. Di ASEAN, Singapura menempati peringkat pertama dengan skor 77,27. Peringkat berikutnya disusul oleh Malaysia (58,62), Brunei Darussalam (49,91), dan Filipina (40,94). Sementara itu, Indonesia ada di posisi ke enam dengan skor sebesar 38,61. (tirto.id, 2019)


Berdasarkan Education Index yang dikeluarkan oleh Human Development Reports, pada 2017, Indonesia ada di posisi ketujuh di ASEAN dengan skor 0,622. Skor tertinggi diraih Singapura, yaitu sebesar 0,832. Peringkat kedua ditempati oleh Malaysia (0,719) dan disusul oleh Brunei Darussalam (0,704). Pada posisi keempat ada Thailand dan Filipina, keduanya sama-sama memiliki skor 0,661.


Perubahan moda pembelajaran online seharunya bisa merubah Kulaitas pendidikan kita lebih baik karena dosen dan mahasiswa bisa berinteraksi kapanpun selama seminggu untuk satu materi pembelajaran dan bisa mengadalkan bahan dari sumber manapun untuk pembelajaran dari kedua belah pihak baik mahasiswa maupun Dosennya.

 

4. Minat Baca Mahasiswa Rendah

Data-data tentang literasi berikut ini sering diulang untuk menunjukkan parahnya minat baca. Yang pertama, hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015.

Yang kedua, peringkat literasi bertajuk 'World's Most Literate Nations' yang diumumkan pada Maret 2016, produk dari Central Connecticut State University (CCSU).

 PISA: Indonesia ranking 62 dari 70 negara

Penelitian PISA menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Ini adalah hasil penelitian terhadap 72 negara. Respondennya adalah anak-anak sekolah usia 15 tahun, jumlahnya sekitar 540 ribu anak 15. Sampling error-nya kurang lebih 2 hingga 3 skor.

Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei (bukan 72 karena 2 negara lainnya yakni Malaysia dan Kazakhstan tak memenuhi kualifikasi penelitian). Indonesia masih mengungguli Brazil namun berada di bawah Yordania. Skor rata-rata untuk sains adalah 493, untuk membaca 493 juga, dan untuk matematika 490. Skor Indonesia untuk sains adalah 403, untuk membaca 397, dan untuk matematika 386.

Pada kategori umum 'performa dalam sains, membaca, dan matematika' ini, negara yang menempati ranking 1 adalah Singapura dengan skor sains 556, membaca 535, dan matematika 564. Di bawah Singapura ada Jepang dengan skor sains 538, membaca 516, dan matematika 532. Urutan ke-3 diduduki Estonia dengan skor sains 534, membaca 519, dan matematika 520.
 
Finlandia yang selama ini dipandang punya pendidikan mumpuni ternyata ada pada urutan ke-5. Yang mengejutkan, Vietnam ada pada urutan ke-8 di bawah Kanada dan di atas Hong Kong. Inggris berada pada urutan ke-15 disusul Jerman. Amerika Serikat ada di urutan ke-25.

Pada kategori yang lebih rinci lagi, yakni hanya dalam hal 'performa membaca' saja, juaranya tetap Singapura (535), disusul Kanada dan Hong Kong dengan skor yang sama (527), dan Finlandia (526) di urutan ke-4. Korea (517) dan Jepang (516) masing-masing di ranking 7 dan 8. Jerman (509) yang dikenal sebagai negara dengan pemikir jempolan pada abad-abad silam, menduduki ranking 10 pada penelitian 2015 ini. Negeri Paman Sam (497) ada di ranking 24 dalam hal performa membaca.

Bagaimana dengan ranking performa membaca orang Indonesia? Negeri ini ada di urutan ke-44 dengan skor 397, kalah satu poin dari Peru (398). Di bawah Indonesia ada Tunisia (361), Republik Dominika (358), FYROM (352), Aljazair (350), Kosovo (347), dan Lebanon (347).

CCSU: Indonesia ranking 60 dari 61 negara

CCSU merilis peringkat literasi negara-negara dunia pada Maret 2016. Pemeringkatan perilaku literasi ini dibuat berdasar lima indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botswana yang berada di kerak peringkat literasi ini. Nomor satu ada Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman. Korea Selatan dapat ranking 22, Jepang ada pada ranking 32, dan Singapura berada di peringkat ke-36. Malaysia ada di barisan ke-53. ( detik.com, 2019). 
 
Ini juga menjadi tantangan yang berat bagi kita sebagai pendidik untuk meningkatkan minat baca kita dan mahasiswa. Kurangnya minat baca ini juga berdampak pada miss Informasi sehingga hoax juga berkembang subur di Indonesia. Data Kemenkominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu.


Demikanlah ada sekitar 4 tantangan pokok yang harus kita hadapi jika kita ingin terus menjadikan moda kuliah online ini sebagai cara baru dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi.

by Hidayat Kampai