Pendidikan

Akreditasi Kampus : Kebohongan Seorang Terdidik

Akreditasi Kampus : Kebohongan Seorang Terdidik

Akreditasi
Akreditasi merupakan salah satu bentuk penilaian (evaluasi) kelayakan dan mutu perguruan tinggi atau program studi yang dilakukan oleh organisasi atau badan mandiri di luar perguruan tinggi. Bentuk penilaian mutu eksternal yang lain adalah penilaian yang berkaitan dengan akuntabilitas, pemberian izin, pemberian lisensi oleh badan tertentu.

Berbeda dari bentuk penilaian mutu lainnya, akreditasi dilakukan oleh pakar sejawat dan mereka yang memahami hakikat pengelolaan perguruan tinggi sebagai Tim atau Kelompok Asesor. Keputusan mengenai kelayakan dan mutu didasarkan pada penilaian terhadap berbagai bukti yang terkait dengan standar yang ditetapkan dan berdasarkan nalar dan pertimbangan para pakar sejawat (judgements of informed experts). Bukti-bukti yang diperlukan termasuk laporan tertulis yang disiapkan oleh perguruan tinggi yang akan diakreditasi yang diverifikasi dan divalidasi melalui kunjungan para pakar sejawat ke tempat kedudukan perguruan tinggi

Sebagai proses, akreditasi merupakan upaya BAN-PT untuk menilai dan menentukan status mutu perguruan tinggi berdasarkan kriteria mutu yang telah ditetapkan. Sebagai hasil, akreditasi merupakan status mutu perguruan tinggi yang diumumkan kepada masyarakat. Dengan demikian, tujuan dan manfaat akreditasi perguruan tinggi adalah sebagai berikut.

  • 1. Memberikan jaminan bahwa perguruan tinggi yang terakreditasi telah memenuhi kriteria mutu yang ditetapkan oleh BAN-PT, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat dari penyelenggaraan perguruan tinggi yang tidak memenuhi kriteria.
  • 2. Mendorong perguruan tinggi untuk terus menerus melakukan perbaikan dan mempertahankan mutu yang tinggi.
  • 3. Hasil akreditasi dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam transfer kredit, usulan bantuan dan alokasi dana, serta mendapat pengakuan dari badan atau instansi yang berkepentingan.

Mutu perguruan tinggi merupakan totalitas keadaan dan karakteristik masukan, proses dan produk atau layanan perguruan tinggi yang diukur dari sejumlah standar sebagai tolok ukur penilaian untuk menentukan dan mencerminkan mutu perguruan tinggi.

Penilaian mutu dalam rangka akreditasi perguruan tinggi harus dilandasi oleh standar yang lengkap dan jelas sebagai tolok ukur penilaian tersebut, dan juga memerlukan penjelasan operasional mengenai prosedur dan langkah-langkah yang ditempuh, sehingga penilaian itu dapat dilakukan secara sistemik dan sistematis.

Sebagai arahan yang komprehensif, BAN-PT telah mengembangkan seperangkat instrumen dan panduan akreditasi perguruan tinggi yang dituangkan dalam sejumlah buku, yaitu:

  • 1. NASKAH AKADEMIK
  • 2. KRITERIA DAN PROSEDUR
  • 3. PANDUAN PENYUSUNAN LAPORAN EVALUASI DIRI
  • 4. PANDUAN PENYUSUNAN LAPORAN KINERJA PERGURUAN TINGGI
  • 5. PEDOMAN PENILAIAN AKREDITASI PERGURUAN TINGGI
  • 6. BUKU MATRIKS PENILAIAN LAPORAN EVALUASI DIRI DAN LAPORAN KINERJA PERGURUAN TINGGI
  • 7. PEDOMAN ASESMEN LAPANGAN
  • 8. PANDUAN PENGGUNAAN APLIKASI SISTEM AKREDITASI PERGURUAN TINGGI ON-LINE (SAPTO)

Apakah Akreditasi Menggambarkan Mutu Perguruan Tinggi?

Kalau dilihat dari penjelasan diatas seharusnya Hasil Akreditasi Menjelaskan Mutu Perguruan Tinggi, akan tetapi hal ini berbeda dilapangan, sehingga Grading Akreditasi ini malah hanya sebagai jualan kebohongan Publik yang di tawarkan kepada orang awam. Mengapa tidak karena dalam Proses Berjalannya Proses Kreditasi ini terkadang semua bahan penilaian disiapkan hanya beberapa bulan bukan sebagai laporan sebuah proses yang rapi dan terukur sesuai kenyataannya.

Tidak Heran dalam proses akreditasi banyak kebohongan yang dilakukan oleh PT seperti menyulap Fasilitas yang sebelumnya dalam proses keseharian tidak ada dibuat dalam seketika menjadi ada seperti Laboratorium, Ruang tunggu dosen, Laporan PKM, Laporan Penelitian, Bahkan Laporan Realisasi Mengajar. Makanya kesibukan terjadi bahkan mensetting alumni yang mau di wawancara, Mahasiswa yang mau di awawancara oleh aseseor, bahkan tanpa malu-malu mengajarkan mereka memberikan informasi palsu dan berbohong supaya target penilai akreditasi baik tercapai. Kadang Yang mengarahkan hal ini dosen yang katanya menjunjung tinggi nilai moral kejujuran sebagai contoh pada mahasiswa. Maknya tak heran ada istilah guyonan satir terkait Borang Akreditasi dengan Sebutan BORANG ( Boongin Orang).

Apakah para asesor tersebut tidak tau, gak mungkin karena di satu sisi mereka juga pelaku disaat kampus mereka melakukan akreditasi, mungkin ada yang perlu di perbaiki dari proses akreditasi kita yang sembraut ini sehingga grading A,B,C itu menunjukan kualitas sesungguhnya dari sebuah perguruan Tinggi dan Program Studi seperti apa adanya dimasyarakat. Makanya saya pribadi mendengan sebuah kampus mendapat Akreditasi baik sedangkan saya melihat kenyataan dilapangan sangat berbeda membuat saya cukup prihatin.

Kebohongan itu ternyata juga terjadi di lembaga pendidikan terhormat demi mempertahakan eksistensi bisnis pendidikan yang ada. Mungkin Proses Akreditasi harus melibatakan mekanisme audit menyeluruh termasuk Audit IT terhadap perguruan tinggi Barulah di ambil sebuah kesimpulan dari sebuat temuan yang ada.